Syahdan, tiga orang laki-laki kehujanan di hutan dan berteduh di dalam gua. Lalu sebuah batu besar jatuh tepat menutup jalan keluar. Ketiganya terjebak, dan setelah segala upaya untuk menggeser batu itu gagal, salah satu diantara mereka mengajak berdoa dengan menggunakan amalan andalan yang dikerjakan Karena Alloh – lillahi kholison.
Fulan pertama berdoa betapa pada suatu malam ketika dia pulang membawa susu, mendapati anaknya sedang menangis kelaparan. Susu tidak dia berikan kepada anaknya karena akan menghidangkannya terlebih dahulu kepada orang-tuanya. Begitu takzimnya, sampai-sampai membangunkan pun tidak berani, sampai terbit fajar. “Maka jika Engkau tahu bahwa saya berbuat demikian itu karena semata-mata mencari wajah-Mu… fa in kunta ta’lam annii fa’altu dzaalikab tighooa wajhika…” … batu bergeser sedikit, tetapi belum cukup besar bagi mereka untuk bisa keluar.
Fulan kedua berdoa betapa dia memiliki hasrat besar atas sepupunya yang cantik, yang memberinya syarat agar mengumpulkan terlebih dahulu sejumlah besar uang. Namun ketika uang terkumpul dan fulan sudah diatas tubuh perempuan itu, niatnya dibatalkan hanya karena kalimat: yaa abdallah ittaqillaah…wahai hamba Alloh, takutlah kepada Alloh… fa in kunta ta’lam annii qod fa’altu dzaalikab tighooa wajhika… batu bergeser lagi, tetapi lagi-lagi masih belum cukup besar.
Fulan ketiga berdoa betapa dia memiliki seorang pekerja yang tidak mengambil upahnya. Ketika beberapa tahun kemudian dia kembali dan menanyakan upahnya tsb, maka diberikannyalah sapi, karena upah pekerja itu memang dia gunakan untuk modal usaha, dan sapi adalah hasilnya. Fa in kunta ta’lam annii qod fa’altu dzaalikab tighooa wajhika… Akhirnya, setelah bergeser untuk ketiga kalinya, mereka bisa keluar.
Tiga amalan andalan: takdzim kepada orang tua mengalahkan sayang kepada anak, membatalkan nafsu syahwat ketika tinggal melakukannya, dan kejujuran luar biasa seorang majikan sehingga hasil usaha diserahkan seluruhnya kepada pekerja yang tidak tahu menahu tentang pemutaran upahnya menjadi modal usaha. Bandingkan dengan tiga ‘amalan andalan’ yang dikisahkan terdahulu: mati di
Tiga amalan andalan pertama mendapatkan pahala, bahkan instant dalam wujud doa yang langsung dikabulkan yang mampu menggeser batu besar. Tiga ‘amalan andalan’ kedua, yang justru lebih berat melaksanakannya, justru mendapatkan siksaan jahannam! Penyebabnya adalah, tiga yang terdahulu karena niatnya ibtighooa wajhika – mencari wajah-Nya, karena Alloh; sedangkan tiga yang kemudian karena niatnya ingin disebut pemberani, dermawan dan pandai, suaranya bagus.
Jangan sekali-kali mengaharapkan imbalan kecuali dari Alloh… in ajriya illaa’alallohi
No comments:
Post a Comment