Tuesday, February 5, 2008

SI KECIL YANG “JATUH CINTA” KEPADA GURUNYA BISA MENINGKAT PRESTASINYA

Duh, anakku bilang dia suka dengan gurunya! Kok bisa ya? Padahal anakku masih SD loh!” bingung seorang ibu. Anda pernah mengalami hal serupa? Perasaan suka dapat dirasakan siapapun, tak terkecuali anak-anak. Namun jika yang disukai adalah sang guru sekolah, normal kah? Apa yang sebaiknya dilakukan orang tua jika hal tersebut terjadi? Benarkah rasa ‘cinta’ ini bisa membuat prestasinya meningkat?

Tentu mengejutkan mengetahui anak Anda sudah mulai “jatuh cinta.” Apalagi jika objeknya tak lain adalah guru di sekolahnya. Intensitas pertemuan yang tinggi antara anak dengan gurunya memungkinkan timbulnya kelekatan yang bisa berkembang ke arah suka. Sosok guru yang penuh perhatian dapat membuat anak merasa nyaman di dekat gurunya.

Bukan Cinta. Widyartri Sekka Udaranti, M.Si, Psi., mengungkapkan, “Sebagai manusia tentu wajar jika kita jatuh cinta kepada seseorang. Tapi bukan untuk anak yang masih kecil. Mereka belum paham makna jatuh cinta atau tertarik kepada lawan jenis. Bila ada guru yang menarik hatinya bisa saja terjadi karena guru sangat baik, memberi perhatian, pandai bergurau, lucu, sayang kepada anak-anak, sehingga anak menjadikan guru sebagai seorang role mode baginya.”

Jadi, sebagai orang tua jangan buru-buru khawatir, karena biasanya rasa suka ini sifatnya sementara. Karena memang masih sangat muda, biasanya rasa bosan akan muncul dan ia mungkin akan berhenti “jatuh cinta” kepada gurunya.

Bukan tak mungkin anak yang baru duduk di kelas 1 SD pun merasakan suka kepada orang yang lebih dewasa, seperti guru. Jika hal itu terjadi, penyebabnya biasanya karena anak kurang mendapat perhatian dari orang tua. Padahal pada usia awal sekolah, anak membutuhkan perhatian lebih, utamanya dalam beradaptasi dengan lingkungan baru. “Jika hal itu tak didapatkan di rumah melainkan didapat dari guru di sekolah, bukan tak mungkin anak akan merasa kagum kepada sosok yang dianggap bisa memberinya perhatian, kasih sayang serta kenyamanan, “ terang M.Nurhadi, S.Pd., pedagog yang juga staf pengajar SDN Pondok Labu 07 Pagi.

Kapan Mulai Suka? Sebenarnya kapankan seorang anak bisa “jatuh cinta”? ketertarikan kepada lawan jenis ini biasanya terjadi pada masa remaja, sekitar usia SMP, namun mungkin saja ketika anak duduk di kelas 5 atau 6 SD sudah mulai memasuki masa puber dan mulai tertarik kepada teman perempuan atau taman lelakinya. Selain kepada teman, mungkin saja anak jatuh cinta kepada guru, atau kepada orang dewasa lain yang dia anggap memiliki karakter menarik.

Biasanya, bila anak tertarik kepada guru, bukanlah hal yang serius. Anak biasanya senang dengan perasaan berdebar-debar bila dekat dengan gurunya atau mereka dapat bercanda dengan teman-teman dekatnya yang tahu akan “rahasia” bahwa ia menyenangi gurunya. “Dalam situasi ini, kesenangan itu sifatnya sementara dan satu belah pihak saja. Artinya, hanya anak yang tertarik. Sebaliknya, guru biasanya tidak tertarik bosan dan mengalihkan ketertarikannya kepada temannya,” lanjut Nurhadi.

Berefek Positif. “Efek positif saat anak merasa suka dengan gurunya, tentu dia cenderung melakukan hal-hal yang dianggap baik oleh gurunya karena ingin mendapat perhatian dari guru atau orang dewasa lain yang dia sukai. Hal ini dapat membantu mereka mengembangkan perilaku baik,” tambah Widayatri, Psikologi yang juga staf pengajar bagian psikologi pendidikan UI.

Hal itu diamini Nurhadi. “Jika anak suka kepada gurunya, tentu dia ingin selalu terlihat sebagai anak baik di hadapan guru tersebut, salah satu cara adalah dengan meningkatkan prestasi belajar agar mendapat simpati sang guru dan tak kehilangan perhatiannya,” imbuh pria kelahiran Tangerang, 11 Maret 1964 ini.

Ada Juga Sisi Negatifnya. Tentu ada pula efek negatif kala anak suka kepada gurunya. “Salah satunya, anak menjadi terlalu bertantung kepada gurunya sehingga dia jadi malas belajar, berakibat pada penurunan prestasi belajarnya di sekolah, “papar pria penyantap masakan Betawi ini.

Widayatri menambahkan, “Bila ternyata orang dewasa yang disukai melakukan hal-hal yang buruk, lantas anak meniru perilaku tersebut. Misalnya jika guru itu punya sifat jelek berkata kasar. Bisa saja anak mendengarkan dan menggunakan kata-kata kasar tersebut kepada orang lain karena dia menganggap apa yang diucapkan penjaga toko tersebut keren.”

Bertindak Agresif. Jika perasaan suka atau kagum kepada sosok guru makin besar, bukan hal yang mustahil jika anak agresif, misalnya memberikan coklat atau bahkan puisi untuk gurunya tersebut. “Peran orang tua adalah menjadi teman bagi anak. Ajak anak untuk bicara, hal-hal apa yang membuat dia begitu menyukai gurunya. Apalagi kalau anak senang dengan hal positif dari guru, kita tentu harus bersikap bijak. Kalau anak membuatkan puisi, sebenarnya dapat melatih perkembangan kreativitasnya. Kita sebagai orang tua hanya mengamati, apakah yang dilakukan anak masih wajar atau tidak. Misalnya bila puisi yang ia buat hanya berisi hal-hal yang menunjukkan bahwa guru adalah orang yang ia favoritkan, sebaiknya kita tidak perlu bertindak keras atau marah. Mungkin kita harus mulai membatasi bila isi puisi atau bahasa yang dipergunakan sudah mengarah ke hal-hal yang tidak sesuai umurnya,” beber Wida, psikolog kelahiran Yogyakarta, tahun 1976 ini.

Diejek Teman. Buah perilaku agresif tersebut tentu menarik perhatian teman-teman si anak untuk melontarkan berbagai Komentar, termasuk yang bernada ejekan atau sindiran, “Ada anak tertentu yang tidak menganggap ejekan teman sebagai suatu masalah. Tapi, ada juga anak-anak yang merasa malu bila diejek teman-temannya. Sebagai orang tua dan guru, yang penting tetap biasakan komunikasi dengan anak supaya kita mengetahui apa perasaannya dan dapat membantunya bila hal itu sudah mengganggunya, “saran Wida.

Senada dengan Wida, Nurhadi menegaskan, dari pihak guru pun sebaiknya bisa saja menanggapi hal itu. Bila anak membuatkan puisi atau hasil karya tertentu, hargai. Tak ada salahnya jika coklat yang diberikan, diterima lalu dinikmati bersama dengan murid lainnya di kelas, sebagai bentuk penghargaan atas usaha anak menyenangkan gurunya. “Sama seperti sikap orang tua, maak guru juga tidak perlu terlalu khawatir, ingat “jatuh cinta” ini biasanya hanya sementara,” ulas Nurhadi dengan Santai.

credit: Tabloid Mom&Kid

No comments: